Dunia SAIN Modern

BLOG INI PINDAH ALAMAT & SUDAH BANYAK DIKEMBANGKAN MENJADI SALAH SATU BLOG FISIKA DENGAN SAJIAN INFORMASI YANG CUKUP LENGKAP.  KUNJUNGIhttp://fisika21.wordpress.com

Iklan

BUKTI MEKARNYA ALAM SEMESTA

Para ahli fisika menyimpulkan bahwa kini mereka memiliki lebih dari sekedar bukti bahwa alam semesta mekar sedemikian cepatnya beberapa saat setelah Big Bang, berkembang dari ukuran sebesar kelereng hingga menjadi besar sekali dalam waktu sepersemilyar-semilyar detik. Penemuan ini – yang melibatkan analisa variasi kekuatan cahaya dalam radiasi gelombang mikro – adalah bukti pertama untuk menyokong teori selama dua dekade bahwa alam semesta melalui fase yang dinamakan inflasi. Teori ini juga menjelaskan bagaimana fragmen-fragmen saling tarik menarik dan mejadi planet, bintang dan galaksi dalam alam semesta. “Ini memberikan kami bukti pertama tentang bagaimana inflasi terjadi”, kata Michael Turner, asisten direktur untuk jurusan Matematika dan Fisika pada National Science Foundation “Ini sungguh menakjubkan”.

Brian Greene, ahli fisika dari Universitas Columbia berkata ‘Penelitannya spektakular dan hasilnya mengejutkan’. Peneliti menemukan bukti tentang inflasi pada cahaya redup yang memenuhi alam semesta. Cahaya yang dinamakan latar belakang gelombang mikro kosmik (cosmic microwave background) ada saat alam semesta berumur 300.000 tahun – lama setelah terjadinya inflasi. Tetapi sebagaimana fosil memberitahukan kepada ahli paleontologi tentang kehidupan yang telah lama musnah, pola cahaya pada gelombang miktro kosmik menyatakan apa yang terjadi sebelumnya. Yang menarik pada fisikawan adalah variasi dari keredupannya yang memberikan petunjuk.

Variasi ini dipresentasikan pada konfrensi pers di Princeton University. Pengukurannya dilakukan menggunakan instrumentasi yang bernama Wilkinson Microwave Anistropy Probe atau (WMAP) diluncurkan oleh NASA pada tahun 2001. Penelitian awal menggunakan WMAP menyatakan bahwa umur alam semesta adalah 13.7 milyar tahun, dengan penambahan ataupun pengurangan selama beberapa ratus ribu tahun. WMAP juga memberikan pengukuran variasi dari latar belakang gelombang mikro kosmik yang menjadi begitu besarnya sehingga tersebar di seluruh langit. Penelitian pertama memberikan pernyataan kuat tentang inflasi, tetapi tanpa bukti, kata Turner yang terlibat dalam riset.

Analisa baru memperhatikan variasi pada latar belakang gelombang mikro kosmik pada beberapa bagian yang lebih kecil dari langit – hanya beberapa milyar tahun cahaya saja, tidak harus beberapa ratus milyar tahun cahaya. Tanpa terjadinya inflasi, variasi keredupan yang melintasi beberapa bagian langit akan sama sebagaimana pada bagian langit lainnya. Tetapi penelitian menunjukkan beberapa perbedaan yang sangat jelas.

“Data-datanya mendukung inflasi”, kata Charles Bennet, fisikawan dari Johns Hopkins University yang menyatakan penemuan ini. Dia disertai oleh dua orang kolega dari Princeton, Lyman Page dan David Spergel. Bennet menambahkan “Adalah sangat menakjubkan bagi saya untuk dapat melihat apa yang terjadi pada sepersemilyar detik saat terjadinya alam semesta”. Hasil pengukuran ini rencananya akan dimasukkan dalam Jurnal Astrophysical.

Posted on: 13 Maret 2009

RADIASI TEGANGAN TINGGI

Ir. Wisnu Arya Wardhana, adalah Widyaiswara BATAN, pengamat dan penulis masalah lingkungan, tinggal di Yogyakarta.
Drs. Supriyono MSc., adalah peneliti BATAN, dosen PATN, tinggal di Yogyakarta.
Ir. Djiwo Harsono MEng., dosen PATN, tinggal di Yogyakarta

Rencana pemerintah untuk meningkatan kesejahteraan rakyat melalui industrialisasi tampaknya merupakan suatu rencana yang patut didukung oleh semua pihak. Berbagai investasi dalam bidang industri pada saat ini telah banyak dilakukan oleh pihak swasta, baik melalui penanaman modal dalam negeri (PMDN) maupun melalui penanaman modal asing (PMA). Sedangkan dari pihak pemerintah sendiri rupanya juga sudah cukup banyak yang dikerjakan melalui sektor industri, antara lain melalui kiprah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang tergabung dalam kelompok industri strategis (BPIS) dan juga melalui industri petrokimia, industri semen, industri logam dan industri berat lainnya. Tidak bisa dipungkiri bahwa semua kegiatan industri seperti di atas hanya dapat berjalan apabila tenaga listrik tersedia cukup memadai. Untuk mengatasi kebutuhan tenaga listrik tersebut, pihak pemerintah juga sudah memikirkannya antara lain melalui pembangunan pembangkit tenaga listrik berskala besar seperti yang ada di PLTU Suralaya (Jawa Barat), PLTU Paiton (Jawa Timur) dan PLTU Tanjung Jati (Jawa Tengah).
Selain dari itu, pemerintah juga mengizinkan kepada pihak swasta untuk menanamkan modal dalam bidang penyediaan tenaga listrik dalam rangka pemenuhan kebutuhan listrik untuk industrialisasi. Hanya saja penjualan tenaga listrik yang dihasilkan oleh swasta kepada konsumen masih tetap melalui PLN sesuai dengan ketentuan perundangan yang berlaku.

Interkoneksi dan Transmisi Tenaga listrik

Pembangunan dalam sektor industri pada saat ini, sebenarnya merupakan kelanjutan pembangunan dari sektor-sektor lainnya yang telah dilakukan pada PJP I yang lalu. Pada PJP II ini pembangunan sektor industri diarahkan untuk menuju kepada kemandirian perekonomian nasional, meningkatkan kemampuan bersaing dan menaikkan pangsa pasar baik pangsa pasar dalam negeri maupun pangsa pasar luar negeri. Untuk dapat melakukan pembangunan sektor industri, masalah tenaga listrik merupakan salah satu faktor penentu yang harus diperhatikan dengan cermat. Kenaikan penyediaan tenaga listrik (daya terpasang kumulatif) sejak awal Pelita I sampai dengan akhir PJP I yang lalu, tampaknya merupakan indikasi keseriusan pemerintah untuk melakukan pembangunan sektor industri, seperti yang tampak pada grafik (terlampir). Ketersediaan tenaga listrik selama PJP I yang meningkat pesat dengan laju pertumbuhan rata-rata 12,4 % per tahun dan pada akhir PJP I meningkat menjadi 17,5 % per tahun melebihi angka yang direncanakan yaitu 14,6 % per tahun. Laju pertumbuhan konsumsi tenaga listrik di Indonesia ternyata di atas angka rata-rata di Asia yang hanya sekitar 7,9 % per tahun dan jauh di atas rata-rata petumbuhan konsumsi tenaga listrik dunia yang hanya sekitar 3,6 % per tahun. Laju pertumbuhan tenaga listrik yang tinggi ini dapat dicapai dengan mengembangkan sistem jaringan terpadu.

Pengembangan sistem jaringan terpadu meliputi sistem interkoneksi pusat-pusat pembangkit tenaga listrik yang ada serta membangun sistem transmisi dari pusat pembangkit ke gardu induk. Pada saat ini interkoneksi di Indonesia baru dilaksanakan di Pulau Jawa, yaitu dengan sistem tegangan tinggi (75 kV dan 150 kV) serta tegangan ekstra tinggi (500 kV) yang menghubungkan beberapa PLTA dan PLTU yang terdapat di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur, yaitu antara pusat pembangkit di Suralaya, Saguling, Semarang, Gresik dan Paiton. Sedangkan sistem distribusi (penyaluran) di Indonesia saat ini menggunakan tegangan 20 kV untuk primer dan 220/380 V untuk sekunder dengan frekuensi 50 Hz.

Tujuan dari sistem interkoneksi dan transmisi secara terpadu ini antara lain untuk meningkatkan kemampuan suplai tenaga listrik, agar pada saat terjadi gangguan pada salah satu pusat pembangkit tidak terlalu berpengaruh pada konsumen. Sebagai contoh gangguan adalah pada PLTA yang sangat dipengaruhi oleh debit air, tandon air, limpahan dan daya muatnya. Sedangkan pada PLTU gangguan dapat berasal dari efisiensi kerja ketel uap, turbin dan sistem peralatan lainnya. Sistem interkoneksi dan transmisi tersebut sering pula dinamakan dengan sistem Saluran Udara Tegangan (Ekstra) Tinggi yang sering disingkat dengan SUTET. Sistem interkoneksi dan transmisi tersebut saat ini memang harus dilakukan agar sistem jaringan terpadu dalam rangka pemenuhan kebutuhan tenaga listrik dapat dicapai. Namun dengan meningkatnya kesadaran masyarakat tentang masalah keselamatan kerja dan keselamatan lingkungan, maka masalah interkoneksi dan transmisi (SUTET) dengan tegangan tinggi atau ekstra tinggi menjadi suatu persoalan yang harus diperhatikan dengan cermat apabila jaringan tegangan tinggi tersebut melewati daerah permukiman. Kasus jaringan tegangan tinggi yang melewati daerah Gresik dan daerah Parung kiranya dapat menjadi pelajaran yang menarik untuk perencanaan interkoneksi dan transmisi pada masa mendatang. Apa yang menyebabkan masyarakat menjadi cemas bila daerahnya dilewati jaringan tegangan tinggi, tidak lain adalah karena rasa khawatir dan takut terkena radiasi tegangan tinggi. Apa sebenarnya radiasi tegangan tinggi tersebut akan dibahas pada uraian berikut ini.
Baca entri selengkapnya »

Posted on: 24 Februari 2009

SISTEM SATUAN INTERNASIONAL

Oleh : M. Sutarno

Pengantar

Sistem metrik modern dikenal dengan system satuan internasional (International System Unit) dan disingkat SI. Dalam SI terdapat tujuh satuan dasar (pokok) yaitu panjang (m), massa (kg), waktu (s), arus listrik (A), temperature (K), jumlah zat (mol), dan intensitas cahaya (cd). Semua satuan-satuan selain satuan dasar tersebut merupakan satuan turunan yang diperoleh melalui perkalian dan pembagian dari satuan dasar.

SI dicetuskan dalam konvensi meter yang ditandatangani di Parais oleh 17 negara termasuk Amerika Serikat pada tanggal 20 Mei 1875. Konvensi tersebut juga menghasilkan sebuah badan yang bernama General Conferences on Weights and measures sebagai badan diplomatis formal yang bertanggungjawab terhadap pengesahan usulan yang berkaitan dengan satuan metric. Badan ini dibantu oleh 10 komite konsultatif yang memiliki kecakapan khusus dalam area metrologi. Aktifitas laboratorium standard dikoordinasi oleh International Bureau of Weights and measurement yang bermarkas di Sevres, Perancis dan beroperasi dibawah pengawasan CIPM. SI ditetapkan kembali pada tahun 1960 setelah dilakukan peninjauan ulang terhadap definisi satuan metric, symbol, dan terminologinya.

Cara Penulisan Satuan

1. Simbol dalam tulisan meliputi simbol kuantitas dan simbol satuan. Simbol kuantitas ditulis dalam  huruf italic (miring) dan simbol satuan ditulis dalam  huruf roman (upright), contoh penulisan : F = 15 N.

2. Simbol satuan merupakan entitas matematis universal, bukan sebuah singkatan, sebagai contoh simbol untuk second adalah s bukan s. atau sec.

3. Simbol satuan yang mengandung nama penemunya ditulis dengan huruf capital (besar), teapi nama satuannya  sendiri ditulis dengan huruf kecil (contoh : tesla ; T).

4. Simbol satuan yang tidak mengandung unsur nama penemunya baik simbol satuan maupun nama satuannya ditulis dengan huruf kecil (contoh: meter ; m).

5. Pelafalan atau pengejaan nama satuan disesuaikan dengan bahasa yang bersangkutan, misalkan pelafalan untuk “kilogram” dalam bahasa inggris “kilogram” dan dalam bahasa perancis “kilogramme”, tetapi simbol nama  satuan tersebut secara SI dimana-mana sama yaitu “kg”.

6. Kata “derajat” dengan simbol, o, dihilangkan dari satuan temperature termodinamik T (dinyatakan dalam satuan kelvin atau K, bukan derajat Kelvin atau oK).

7. Simbol untuk angka atau bilangan 106 atau lebih besar ditulis dengan huruf kapital sedangkan yang lebih kecil dari 106 ditulis dengan huruf kecil, tetapi nama simbol (prefik) semua ditulis dengan huruf kecil (contoh : 1015 = peta = P dan 103 = kilo = k).

8. Perkalian satuan ditulis dengan menyisipkan titik (dot) atau dengan member sapsi antar satuan (contoh : N.m atau N m).

9. Operasi pembagian ditulis menggunakan garis miring atau pangkat negative (missal m/s2 atau m.s-2), tetapi pengulangan garis miring dalam hal ini tidak diperbolehkan (missal : m/s2 tidak boleh ditulis m/s/s).

10. Untuk menghindari misinterpretasi yang mungkin ketika lebih dari satu satuan muncul bersamaan, dapat digunakan tanda kurung atau pangkat negative (missal : W/(m2.K4) atau W.m-2.K-4).

11. Nama simbol tidak boleh dicampur dengan simbol operasi matematis (contoh : “meter per second” tidak boleh ditulias “meter/second” atau meter.second-1).

12. Ketika dua atau lebih nama satuan muncul maka penulisannya disarankan dipsahkan dengan spasi atau tanda  strip,-, (contoh : newton meter atau newton-meter, tidak boleh ditulis newton.meter).

13. Penulisan derajat, o, dan derajat untuk sudut bidang tidak boleh dipisahkan oleh spasi (misal : oC dan 50o).

14. Simbol satuan untuk liter adalah L bukan l, hal ini dimaksudkan agar tidak membingungkan dengan angka 1.

15. Ada tiga satuan diluar SI yang saat ini diterima digunakan bersama satuan SI yaitu energy (eV), massa atom (u)   dan satuan astronimi (ua).

Penutup

Bisa jadi masih banyak para pendidik fisika yang belum mengetahui dan memahami dengan baik masalah standar penggunaan dan penulisan satuan, mereka beranggapan ini sebagai sesuatu yang kurang penting atau dianggap mudah sehingga sering diabaikan, padahal hal ini merupakan dasar dari pemahan kita terhadap fisika. Dengan demikian hendaknya setiap pendidik fisika memahami standard penggunaan dan penulisan satuan SI sehingga dapat mengajarkannya kepada peserta didik dengan baik dan benar.

Sumber dari http://www.physicstoday.org/guide/metric.pdf

Laman

Kategori

Jumlah Kunjungan :

  • 2,584 kunjungan
Iklan